EddY Sofyan  Masih  Layak  Menjabat  Kursi  Sekjen  PSSI

oleh manager
Bagikan berita ini

Di Tulis Oleh Tommy R.Arief, Mantan Direktur Media Dan Lt PSSI

Kisah perih dan penuh konflik seolah tak pernah berakhir menerpa kepengurusan  sepakbola Indonesia (PSSI). Meski sesekali mereda tapi kambuh lagi. Suap, pemukulan wasit, perkelahinan antar pemain atau antar sporter pun selalu menggoyang bila kompetisi bergulir. Ditambah dengan persoalan pengurus teras di PSSI yang belakangan ini begitu vulgar, KETUA umum, WAKIL ketua umum, sekjen, wakil sekjen, para esxco, sampai ke PT LIB. Semua menjadikan potret  muram bagi persepakbolaan nasional.

Padahal Indonesia sedang dipercayakan oleh FIFA untuk menjadi tuan rumah piala dunia U 20 2021 mendatang. Selama bertahun tahun manajemen PSSI terjebab pada permainan internal. Lalalu apa langkah Ketua Umum membenahi benang kusut ini?.

Banyak kalangan menilai harus di mulai di posisi Sekjen. Setelah Ratu Tiisya pergi, jabatan strategis dan amat berperan di suatu organisasi sepak bola itu dijabat Yunus Mursi sebagai PLT yang dianggap banyak orang tidak mampu bahkan bisa bikin mundur PSSI ke belakang.  Komjen Mohamad Iriawan, sang jenderal yang cuku lama berdinas di Kepolisian dan hampir separoh perjalan karirnya  dihabisi di dinas reserse, tidak mungkin diam.

Polisi bintang tiga itu mulai bedol desa. Dia mulai bersih bersih rumah PSSI yang yang dipercayakan kepadanya sebagai orang nomor satu. Rangkap jabatan dan netpotisme di kubuh BLBI, di benahinya lewat RUPS. Iwan Bule bukan tidak mengerti mengenai permainan kotor yang dilakukan oknum di internal nya sendiri. Iwan Bule faham itu dalam bahasa ekonomi disebut internal trading. Dan bukan rahasia lagi, semua oknum internal selama ini menikmati hasil itu dan sama-sama bagi hasil.

Salah satu tameng yang dijadikan modus adalah bagaimana terus “memperkuat statuta” pada hampir setiap kongres.  Ini suatu cara mereka juga untuk mengelabui masyarakat awam di luar seakan-akan mereka bekerja dan paling bersih. Padahal anak gawang juga tahu, bahwa mengubah statuta tiap hari tidak ada kaitannya   sedikitpun dengan kemampuan untuk menata, membangun dan meningkatkan prestasi sepak bola Indonsia yang makin memprihatinkan. Langkah ini juga mereka lakukan untuk mencegah orang lain yang bukan kelompoknya bisa masuk  jadi pengurus PSSI. Ini suatu konspirasi yang buruk dan harus dihentikan oleh Ketum PSSI Iwan Bule. Kini harapan banyak kalangan berharap Iwan Bule tidak kendor membasmi semua ini.

Ketua Umum PSSI Iwan Bule, tidak usah ragu-ragu dan harus jeli dalam menempatkan pembantu- pembantunya terutama di bidang kesekjenan. PSSI harusnya merekrut orang-orang terbaik yang menguasai ilmu sepak bola demi kepentingan nasional.

Memang tidak mudah mencari figur seorang sekjen yang tepat, selain wawasan dan penguasaan tentang sepak bola secara luas juga pengalaman, dan tentunya harus dapat bekerjasama dengan Ketua Umum PSSI.

Tapi itu juga tidak sulit. Belum lama ada nama yang mencuat Eddy Sofyan, Ketua Umum BASRI (Badan Sepak Bola Rakyat Indonesia), yang punya jam terbang mupuni di dunia persepakbolaan nasional, maupun internasional.  Sayang cuma karena tekanan exco nama putra terbaik Indonesia yang satu ini harus tergusur.

Harusnya Ketua Umum PSSI Iwan Bule yang menyandang hak prerogative dan kewenangan penuh yang dimiliki tanpa keraguan berani merekrut figure seperti Eddy Sofyan .

Rasanya tidak adil seorang Eddy Sofyan diperlakukan seperti itu. Apalagi kasusnya harus dikaitkan dengan PSSI.  Ini sesuatu yang mengada ada saja dari beberapa oknum di dalam yang merasa tak mampu bersaing bila Eddy Sofyan berada di dalam.

Kasus  bos PT Volgreen Indonesia tahun 2008,  itu kasus abu-abu. Eddy Sofyan justru menyelamatkan uang negara. PK nya dikabulkan MA 10 tahun lalu. Orang di PSSI harus faham itu.

Banyak contoh di negara ini seperti kasus yang dialami Eddi Sofyan, bisa diputihkan mereka bisa kembali berbakti kepada Negara lewat profesinya masing-masing. Contoh pemilihan di panggung legislative atau pilkada menjadi kepala daerah, bupati, wakil bupati, wali kota, wakil wali kota bahkan Gubernur dan wakil. Yang lebih menonjol lagi Kasus Nurdin Chalid mantan Ketua Umum PSSI. Bahkan dari balik jeruji penjara bisa mengendalikan PSSI. Soekarno, proklamator republik Indonesia. Nelson Mandela, di Afsel, mereka lolos dan bisa menjadi Presiden di ngaranya masing masing. Ini sebuah contoh besar. Lalu apa bedanya dengan seorang  Eddy Sofyan

Reporter/Editor Sandra Charlotte

Berita Lainnya untuk Anda

Tinggalkan Komen